Hidup Tenang dengan Husnudzon (Berbaik Sangka)
Sudah lama aku ingin mempraktikan pola berbaik sangka, yang selain sudah menjadi tuntunan umat Islam, juga menurut para pakar bisnis, manajemen, SDM dan pakar apapun itu namanya, merupakan kunci dari hubungan yang harmonis, dus kunci dari kesuksesan..Nah, kebetulan, pas banget baru baca sebuah artikel, agak lama sih, tapi cukup menyentuh apabila dibaca dan menginspiratif, berjudul “husnudzon”. Pas pula, ketika ada perasaan tak enak, disebuah kesempatan ada yang “nge-flame” dengan tujuan menyindir dan berburuksangka. Hmm.. ada ya orang yang seperti itu. Baiklah, daripada panjang lebar, silakan pembaca simak artikelnya mbak Puput Nurul Hayati.
Walaupun tulisan lama, dan saya nggak tau apakah beliau masih ngeblog ditempat lain, akan tetapi tulisan ini mudah2an selalu menjadi pintu doa dan pahala bagi penulisnya. Saya copas dengan sedikit perubahan :
“Begitu indahnya bila kita memiliki hati yang bersih, pikiran yang selalu positif, dan tindakan yang lurus. Kita akan memandang diri kita penuh dengan rasa syukur. Apapun yang kita miliki dan terima, semua dikembalikan lagi kepada Allah. Karena Allah akan memberikan nikmat yang lebih banyak lagi bila hamba-Nya bersyukur pada-Nya. Itulah janji Allah, yang tak akan pernah diingkari oleh-Nya. La in syakartum La aziidannakum (Jika kalian bersyukur, niscaya Aku (ALLAH) akan menambah rizkimu)…QS.14 : 7
Dengan pikiran yang jernih, kita pun tidak terlalu banyak menuntut orang lain untuk berbuat begini dan begitu sesuai dengan yang kita inginkan. Pikiran kita tidak melulu menuntut tapi selalu memberi perhatian dan toleransi pada orang lain dan berusaha mengerti keadaannya walau bagaimanapun.
Husnudzon atau berbaik sangka pada siapapun adalah kunci kita bisa membangun hubungan baik dengan orang lain. Rasulullah pun pernah mengatakan bahwa tingkatan ukhuwah yang paling rendah adalah husnudzon. Sedangkan yang tertinggi adalah itsar (mendahulukan kepentingan orang lain dibanding kepentingan sendiri)
Artinya, bahwa sebuah ukhuwah (ikatan persaudaraan) akan terjalin indah bila satu sama lain saling mengerti dan memahami. Tidak pernah terpikir dan terbersit perasaaan dendam, iri atau kesal dengan perilaku orang lain. Jangankan dengki, iri saja pun tidak diperkenankan oleh Allah. Bila kita sudah ada rasa su’udzon, berarti kita sudah melewati syarat sebuah ukhuwah dapat terwujud.
Bagaimana kita bisa itsar kalau husnudzon saja terasa begitu sulit?
Bagaimana kita bisa mengalah demi orang lain jika berbaik sangka saja rasanya begitu susah?
Husnudzon terlihat seperti perkara yang mudah, namun ternyata faktanya sangat sulit diaplikasikan. Lebih mudah bersu’udzon (berburuk sangka) dibanding berbaik sangka. Karena memang syetan terus menghembuskan nafsu dan egoisme kita untuk melihat kesalahan orang lain seperti melihat gajah di pelupuk mata, dan mencari kebaikan orang lain seperti mencari semut hitam di atas batu hitam (pas malem-malem, mati lampu pula)
Yang terjadi seringnya kita malah ghibah alias gosssip(membicarakan keburukannya pada orang lain) dan tidak mau berusaha memberi kesadaran pada orang itu. Kalo kita hanya sekadar bisanya cuma bergosip gosip show (yang semakin digosok semakin siiip), maka orang itu tidak akan pernah tau dan menyadari bahwa dirinya mungkin pernah berbuat salah. Dalam Al Qur’an surat Al Hujurat ayat 12 dijelaskan :
“Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka. Sesungguhnya sebagian dari prasangka itu adalah dosa dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah sebagian kamu menggunjingkan sebagian yang lain. Sukakah salah seorang di antara kamu memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang.”
Masya Allah, begitu buruknya analogi orang yang suka menggunjingkan orang lain, seperti memakan bangkai saudaranya sendiri. Bahkan ada juga yang mengatakan bahwa kalau kita ngomongin orang, maka dosa orang itu akan diambil sama kita. Jadi dosanya bisa-bisa double, malah triple.
Terlepas dari seberapa besar dosa yang akan kita dapatkan dengan kita selalu berburuk sangka dan mencari-cari kesalahan orang lain, kemudian mempergunjingkannya kepada orang lain. Tetap saja perbuatan tersebut merupakan perbuatan sia-sia yang akan membunuh diri kita sendiri. Otomatis orang yang selalu berpikiran negatif, tidak akan pernah puas dan tidak suka melihat orang lain bahagia. Walhasil, hatinya selalu dipenuhi noda kebusukan untuk menghasut bahkan memfitnah. Hidupnya tidak akan tenang dan tidak akan pernah merasa aman dan nyaman. Hidupnya selalu sengsara dan menderita tekanan batin tingkat tinggi.
Oleh karena itu, marilah kita mulai menata hati kita. Untuk selalu berpikir positif, untuk selalu berbaik sangka pada saudara-saudara kita. Dengan membiasakan berhusnudzon, maka aktivitas kita akan terasa lebih mudah untuk dijalani. Karena Allah akan selalu memberi jalan kemudahan bagi hamba-hamba-Nya yang berusaha terus memperbaiki dirinya dan memperbaiki sesama saudaranya dalam bangunan ukhuwah yang kuat dan kokoh.
Untuk membentuk sebuah bangunan ukhuwah yang kokoh memang perlu tadhiyah (pengorbanan) yang tinggi. Untuk menjalin persaudaraan memang butuh tahap yang sedikit demi sedikit. Dari tahap ta’aruf (pengenalan), tafahum (saling memahami), takliful qulub (ikatan hati) dan takaful, tadhiyah, serta ta’awun (toleransi, saling berkorban dan tolong menolong).
Semuanya butuh proses dan kesabaran yang tinggi. Semuanya butuh tahap dan komitmen yang teguh. Hanya pada Allah kita berusaha dan bertawakkal. Hasbiyallaahu laa ilaahailallaahu Allahu Akbar … ”
..hmm.. damai sekali hati ini..
Hal yang paling menyedihkan ketika kita tidak mampu mendapatkan apa
yang kita inginkan. Dari hal yang sepele seperti ketinggalan acara tv
gara-gara ketiduran, kehabisan tiket nonton konser musik, atau gagal
menjadi juara pada sebuah kompetisi.
Mungkin banyak hal yang menjadi keinginan atau harapan dalam hidup kita.
akan tetapi, semua hal yang kita impikan belum tentu semuanya akan jadi
kenyataan. Terkadang kita tidak mampu untuk mensyukuri segala yang
telah diberikan Tuhan, namun hanya terus memandang ke depan demi
mengejar semua yang kita cari.
pada saatnya kita jatuh, kita mengalami situasi yang benar-benar tidak
mengenakan, pahit, pedih, dan sungguh menyakitkan. semua hal yang
menjadi obsesi kita seolah-olah hilang dan menjadi puing-puing tak
beraturan.
cobalah untuk merenung, menunduk dalam, menghayati segala langkah dan
perjuangan yang telah dilakukan… lalu mendongak setinggi-tingginya ke
atas, melihat langit dan pejamkan mata, bahwa ada DIA yang selalu
menemani, mengiringi, dan membimbing arah kita.
tanamkan dalam hati bahwa segala yang kita lakukan adalah bukan untuk
kesia-siaan. Segala yang kita kerjakan adalah sebuah langkah menuju
perubahan.
Tak pantas kita menyerah hanya karena tak mendapat apa yang kita harapkan…
percayalah bahwa Tuhan punya segala yang kita cari, namun belum tentu segala yang kita inginkan adalah yang terbaik buat kita…
mungkin Tuhan menunda, mengganti, atau akan memberi yang lebih baik dari apa yang kita inginkan…
selalu ber-husnudzon, atau positif thinking atau berbaik sangka kepada Tuhan…
karena itu adalah salah satu hal yang bsa mengubah takdir kita…

Tidak ada komentar:
Posting Komentar